Selasa, 07 Juli 2015

Berkemah dalam Kepramukaan



Berkemah di alam terbuka, memberikan kesempatan berlatih yang menantang dan menyenangkan. Kegiatan ini, merupakan salah satu media pertemuan untuk Pramuka. Selain itu juga, merupakan kesempatan emas kepada parapramuka mendekatkan diri pada Tuhan melalui daya tarik alam dan keajaiban yang tersimpan di dalamnya.
“Get to nature, to read the God’s writing !”
Berpetualanglah di alam terbuka, untuk membaca ayat-ayat Tuhan!
Gerakan Pramuka Gugus Depan 01163-01164, Pangkalan SMP Negeri 2 Garut.

Kegiatan Perkemahan
Berkemah sebagai aktivitas rekreasi, mulai populer pada awal abad ke-20. Biasanya, perkemahan diadakan sebagai penutupan kegiatan selama satu tahun atau rutinitas lainnya. Materinya pun, kadang disesuaikan dengan tingkat kompetensi yang perlu dikuasai –biasanya merupakan penilaian dari kegiatan yang sudah dilaksanakan selama satu tahun berjalan. Kegiatan perkemahan, sangat dipengaruhi oleh pengalaman atau “jam terbang” para-Sangga Kerjanya; Pembinanya; kualitas kegiatan; nilai-nilai yang ditanamkan; pengaturan jadwal; layout bumi perkemahan; tata administrasi; satuan terpisah; diversifikasi kegiatan; dan lain lain. Untuk perkemahan besar, dapat dibentuk panitia pelaksana dengan mengikutsertakan petugas-petugas dari luar Gerakan Pramuka yang mempunyai keahlian sesuai bidang tugas yang diperlukan. Dari kegiatan perkemahan, seorang Pembina Pramuka dapat menilai seperti apa sebenarnya kepribadian anak atau peserta didik. Karena pada saat berkemah, akan nampak seperti apa sejatinya seseorang itu. Yang biasa membantu orangtua di rumah, maka dia pasti dapat mandiri bahkan menyelamatkan teman-temannya dari kelaparan. Yang biasa bersolek, maka dia juga hanya akan bersolek. Tak lupa pula, yang biasa bobo maka diapun akan tertidur dengan dengkurannya.
Tujuan Perkemahan: Mengembangkan kemampuan diri dalam mengatasi tantangan yang dihadapi, menyadari tidak ada sesuatu yang berlebih di dalam dirinya, menemukan kembali cara hidup yang menyenangkan dalam kesederhanaan; Membina kerjasama, persatuan dan persaudaraan; serta Memberikan pengalaman adanya saling ketergantungan antara unsur-unsur alam dan kebutuhan untuk melestarikannya, menjaga lingkungan dan mengembangkan sikap bertanggung jawab akan masa depan yang menghormati keseimbangan alam.
Macam Perkemahan: Ditinjau dari Lamanya Waktu, dibagi menjadi 3 yaitu: Perkemahan Satu Hari –seperti Pesta Siaga (dilaksanakan siang hari saja), terkadang disebut Perkemahan Sehari (PERSARI); Perkemahan Sabtu Malam Minggu –Persami; serta Perkemahan lebih dari tiga hari. Ditinjau dari Tempat Pelaksanaannya, dibagi menjadi 2 yaitu: Perkemahan Menetap –dari awal sampai akhir tetap ditempat itu; dan Perkemahan Safari –berpindah-pindah tempat. Ditinjau dari Tujuannya, dibagi menjadi 6 yaitu: Kemah Bakti –seperti Perkemahan Wirakarya; Kemah Pelantikan –seperti Perkemahan Pelantikan Tamu Ambalan, Pelantikan Penggalang Ramu, dan lain-lain; Kemah Lomba –seperti Lomba Tingkat; Kemah Rekreasi; Kemah Jambore –seperti Jambore Ranting (tingkat Kwartir Ranting/Kecamatan), Jambore Cabang (tingkat Kwartir Cabang/ Kabupaten/Kota, Jambore Daerah (tingkat Kwartir Daerah/Provinsi, Jambore Nasional (tingkat Kwartir Nasional/se-Indonesia); serta Kemah Riset/Penelitian. Ditinjau berdasarkan Jumlah Pesertanya, dibagi menjadi 4 yaitu: Perkemahan Dua Orang –perkemahan pengembaraan Penegak; Perkemahan Satu Regu Penggalang/Sangga; Perkemahan Satuan Perindukan Siaga, Pasukan Penggalang, Ambalan Penegak, Racana Pandega; serta Perkemahan tingkat Ranting/Cabang/Daerah/Nasional/Regional/Dunia.


Persiapan Perkemahan
Sebaiknya, kegiatan perkemahan perlu dipersiapkan dengan matang. Tak Cuma: “yang penting… Kemping !”. Berkemah merupakan kegiatan penilaian atau evaluasi terhadap kegiatan latihan yang telah ada, bukan arena perpeloncoan ataupun arena gojlokan. Baik dalam perencanaan maupun pelaksanaan, sebaiknya pembina mendayagunakan peserta didik agar terlibat langsung sebagai pelaksana kegiatan –hal ini, termasuk bagian dari metode pendidikan kepramukaan. Pramuka Penggalang, lebih banyak membutuhkan pendampingan Pembina. Tanggung jawabnya dalam pelaksanaan perkemahan, masih sangat terbatas. Sedangkan Pramuka Penegak dan Pandega, sudah bisa dibebani tanggung jawab lebih besar –peran Pembina, hanya sebagai konsultan advisor/penasehat dan pendamping. Sangga Kerja, harus mampu memilih jenis kegiatan yang mampu mengeksplorasi kompetensi Regu atau Sangganya. Semua acara diperkemahan, dilakukan dengan riang gembira –walaupun tidak menutup kemungkinan, pekerjaan itu penuh dengan rintangan yang tidak kecil.
Untuk suatu perkemahan yang baik, maka prosedur yang dapat ditempuh adalah: (1) Persiapan: (a) penentuan waktu, tempat, tujuan dan biaya; (b) pengadaan peralatan dan perbekalan, peninjauan ke daerah berkemah; (c) ijin orangtua peserta dan ijin memberitahukan kepada penguasa setempat; (d) pembentukan panitia/staf pelaksana; serta (e) memantapkan kesiapan mental fisik, dan ketrampilan. (2) Pelaksana: (a) pemimpin perkemahan sebagai penanggung jawab; (b) pembantu-pembantu dari Pembina Pramuka; (c) panitia/staf pelaksana sesuai keperluan; serta (d) pembagian tugas pendayagunaan. (3) Acara: (a) acara harian yang menjelaskan acara pokok secara garis besar; (b) acara kegiatan keseluruhan yang berisi perincian waktu dan kegiatan selama berkemah; serta (c) acara perorangan dan kelompok. (4) Pelaksanaan: (a) kegiatan hendaknya diusahakan menurut rencana yang telah dipersiapkan sesuai dengan tujuan diselenggarakannya perkemahan; (b) acara mungkin saja dapat berubah, sesuai dengan perkembangan keadaan; (c) perubahan acara seyogyanya tidak ke arah resiko yang lebih berat; (d) pelaksanaan acara harus disesuaikan dengan kemampuan peserta perkemahan dan acara berikutnya; (e) mengusahakan adanya acara pengganti dan tambahan untuk mengisi kesibukan pada waktu terluang; serta (f) faktor pengamanan dan keselamatan peserta harus diperhatikan. (5) Penyelesaian: (a) pembongkaran tenda-tenda; (b) pembersihan tempat berkemah –pada prinsipnya tempat bekas berkemah harus lebih baik dan lebih bersih dari pada waktu datang; (c) pengecekan pengembalian barang pinjaman; (d) upacara penutupan dan ucapan terima kasih kepada masyarakat setempat; serta (e) jika mungkin, dilakukan penyerahan sumbangan bagi keluarga masyarakat yang kurang mampu, baik berupa bahan makanan, pakaian layak pakai atau lainnya.
Berbagai macam bentuk acara dalam perkemahan, dapat berupa: Kegiatan Persaudaraan; Penjelajahan dan Outdoor Activities –seperti: hiking (penjelajahan di alam terbuka), caving (menyusuri goa), climbing (panjat tebing), mountaineering (pendakian gunung), rafting (arung jeram), diving (menyelamam), swimming (berenang), fishing (memancing), bersepeda gunung; Kegiatan Wawasan dan Pengetahuan –seperti: teknologi tepat guna, kunjungan ke apriari (peternakan lebah madu), wawasan tentang bencana alam; Kegiatan Keagamaan –seperti: ibadah berjamaah, ceramah agama, doa bersama; Bakti Masyarakat –seperti: penghijauan, sanitasi lingkungan, penyelenggaraan Posyandu, pengobatan gratis, penyuluhan; Seni dan Budaya –seperti: pentas seni, api unggun, lomba membuat kerajinan, pelatihan membatik; Keterampilan Kepramukaan (Tekpram) dan Halang-rintang; serta Olahraga.

Pemilihan Lokasi Perkemahan
Seperti kita ketahui, bahwa berkemah merupakan suatu kegiatan yang menarik –tidak saja bagi orang dewasa, tetapi juga bagi pemuda dan remaja. Mereka meninggalkan rumah, pergi ke alam bebas dan di sana mendirikan tenda untuk berkemah. Pemilihan tempat berkemah tergantung dari rencana yang sudah diprogramkan, apakah di daerah pantai yang indah; di lereng pegunungan yang sejuk; atau di lembah yang mempesona –kadang-kadang juga dilakukan di tepi hutan dekat dengan sungai yang menakjubkan. Kriteria utama lokasi perkemahan adalah keamanan dan keselamatan peserta perkemahan. Kriteria lokasi perkemahan yang baik, antara lain: Terjamin keamanannya; Di alam terbuka yang bebas polusiada sinar matahari; Lokasi bertanah rata dan berumput serta sedikit miringtidak ditepi jurang serta tidak dekat dengan rawa-rawa; Terdapat pohon pelindung dari terik mataharitidak di bawah pohon kelapa yang sedang berbuah atau tidak di bawah pohon yang mudah patah/tumbang; Dekat sumber air; Ada saluran pengeringan atau pembuangan air; Pemandangan di sekitar lokasi yang menarik; Terdapat area untuk kegiatan di alam terbuka; Tidak terlalu dekat dan tidak terlalu jauh dengan jalan raya maupun pemukiman penduduk; serta Tidak terlalu jauh dari fasilitas umum –seperti: pasar, klinik kesehatan, pos keamanan.

Pengaturan Campsite
Tapak perkemahan putera, terpisah dengan tapak perkemahan puteri. Pengelompokan perkemahan dapat diatur seperti “perkampungan” atau “pemerintahan”, misal dengan kelompok: RT; RW; Kelurahan; Kecamatan; dan seterusnya –tergantung jumlah peserta perkemahan.

Perlengkapan Perkemahan
Berbagai peralatan dan perlengkapan, harus disiapkan oleh seorang Pramuka ketika hendak mengikuti perkemahan. Jenis dan macam perlengkapan yang harus disiapkan sebelum mengikuti perkemahan, harus disesuaikan dengan: waktu; lama; lokasi; dan tujuan perkemahan. Perkemahan yang dilaksanakan satu hari dengan perkemahan yang berlangsung satu minggu, pasti membutuhkan peralatan yang berbeda. Pun berkemah di daerah pegunungan dengan di dataran rendah, akan membutuhkan peralatan yang juga berbeda.
Perlengkapan perkemahan, dapat dikelompokkan menjadi:
Perlengkapan Pribadi, adalah peralatan untuk masing-masing anggota kelompok. Setiap anggota, membawa peralatan sesuai dengan kebutuhan –yang dibawa haruslah peralatan yang benar-benar dibutuhkan sehingga tidak memberatkan saat membawanya. Perlengkapan Pribadi, seperti: Pakaian –seragam pramuka, olahraga, pakaian untuk kegiatan lapangan, serta ponco atau jas hujan (saat berkemah di musim hujan); Obat-obatan Pribadi –bagi yang memiliki penyakit tertentu; Nesting –panci masak pribadi serbaguna; Kompor lapangan kecil –kompor spiritus, parafin, atau gas portabel; Perlengkapan Kegiatan –kompas, peluit, meja dada, senter, tali, tongkat; Selimut –jika tidak memiliki sleeping bag/kantong tidur; Tas Lapangan atau tas kecil –jika ada untuk tempat peralatan-peralatan yang kerap dibutuhkan dalam kegiatan –seperti: alat tulis, peluit, korek api, dan obat-obatan; Sarung Tangan –jika berkemah di daerah yang dingin; serta beberapa kantong plastik –untuk membungkus pakaian ganti dan pakaian kotor.
Perlengkapan Regu/Sangga/Kelompok, adalah peralatan yang harus disiapkan dan digunakan secara bersama-sama, sehingga untuk mempersiapkannya dibutuhkan koordinasi atau pembagian pada masing-masing anggota kelompok. Usahakan pembagian penyiapan peralatan ini merata ke semua anggota kelompok. Perlengkapan kelompok, seperti: Tenda Pramuka/Tidur dan Tenda Dapur; Perlengkapan Perkemahan –tongkat, tali, alat masak (kompor, panci, wajan, timba air, sendok sayur, pisau), alat makan, alat kerja; serta Perlengkapan untuk Kegiatan –radio FM, perlengkapan pertolongan pertama, perlengkapan untuk kegiatan bakti. Dalam beberapa jenis perkemahan –atau jika dibutuhkan, dapat juga dilengkapi dengan perlengkapan untuk membuat gapura tenda, pagar sekeliling tenda, alat kebersihan, dan perlengkapan tiang bendera.
Perlengkapan Panitia, seperti: Perkakas Kesekretariatan; Perlengkapaan Kegiatan; Alat Komunikasi –pemancar radio, sound system, HT; Alat Transportasi; Fasilitas Umum –MCK, pos kesehadan, tempat ibadah; serta Penerangan –lampu, generator.
Masukkan dan atur sedemikian rupa, semua peralatan berkemah tersebut dalam tas ransel –pilihlah ransel yang kuat, ringan, dan tahan air. Penyusunan peralatan berdasarkan: berat benda –barang yang berat ditaruh di bagian atas ransel, serta waktu dan seringnya barang digunakan –barang jarang digunakan atau masih lama, diletakkan di bagian bawah rangsel. Pakaian ganti sebaiknya dimasukkan dulu ke dalam kantong plastik, pun untuk pakaian kotor, jika tidak sempat dicuci, dimasukkan pula dalam kantong plastik tersendiri. Sedangkan alat tulis, peralatan mandi, dan obat-obatan, masing-masing dimasukkan wadah tersendiri untuk memudahkan pengambilan jika sewaktu-waktu diperlukan. Kesemua peralatan yang dibawa dalam berkemah –baik peralatan pribadi; kelompok maupun peralatan panitia, hendaknya didata. Baik sebelum ataupun setelah perkemahan usai, masing-masing dapat mengecek peralatannya agar tidak ada yang tertinggal.

Tenda dalam Berkemah
Kemah adalah tempat tinggal darurat yang biasanya berupa tenda dengan ujungnya hampir menyentuh tanah serta dibuat dari kain terpal. Namun demikian, berkemah tidak selalu harus di tenda kain. Bisa dilakukan dengan berbagai alternatif, seperti: Bivak –tempat berteduh/bermalam sementara dari bahan seadanya; Karavan; dan Homestay. Menurut bentuknya, tenda dapat dibagi menjadi: Tenda Prisma –sering disebut sebagai Tenda Pramuka; Tenda Dome; Tenda Tipe Tunnel; serta Tenda Peleton –tenda berbentuk rumah dengan kapasitas satu peleton/mencapai 40 orang.

Evaluasi
Untuk mengetahui hasil perkemahan –dan sebagai bahan pertimbangan untuk perkemahan di masa-masa mendatang, kita dapat mengevaluasi dengan: (1) mencatat prestasi kegiatan perorangan maupun kelompok selama berkemah; (2) mengajukan pertanyaan kepada peserta perkemahan; (3) melihat perubahan sikap peserta perkemahan sebelum dan sesudah pulang berkemah; (4) melihat kesehatan peserta –banyak yang sakit atau tidak; (5) kekurangan, kesalahan, serta hambatan, dicatat guna perbaikan pada perkemahan yang akan datang; serta (6) menyusun laporan hasil berkemah –merupakan suatu kewajiban untuk penanggung jawab perkemahan.

***

tina Ritual kana Sosial



Seni tari téh mangrupa média komunikasi, anu ditembrakkeun ngaliwatan gerak ku jalan ngandelkeun waruga manusa minangka alatna. Ari asal-muasalna mah, manusa téh perelu ngayakeun komunikasi jeung kakuatan goib di saluareun dirina, demi keur nyalaraskeun dirina jeung lingkunganana dina raraga mertahankeun hirupna. Arwah karuhun jeung kakuatan goib anu matuh dina: batu; kayu; huluwotan cai (kaabus sasatoan), anu bisa dipaké cukang pikeun komunikasi ngaliwatan tari. Ibing Sunda anu ngandung ajén-inajén karamat (ibing ritual), kiwari ngésér kana ibing nu ngandung anjén-inajén pergaulan atawa tongtonan (ibing sosial). Ajén-inajén ibing karamat dina upacara-upacara adat karuhun, ngésér kana ibing hiburan dina pésta hahajatan. Ku kituna, ibing nu asalna diigelkeun keur ngabeberah anu ngibingna sorangan téh, atuh ari brasna mah, jadi diréka-réka pikeun pintonkeuneun di hareupeun balaréa. Ibing Sunda anu asalna tumuwuh di padésaan téh, kiwari mah mekar di pakotaan téh keur lalajoaneun.

Ibing Ritual
Di Tatar Sunda kiwari masih bisa kasaksian –di sagigireun tari Sunda anu ngabogaan ajén-inajén tongtonan jeung hiburan téh, aya tari anu masih kénéh ngandung ajén-inajén karamat –sakral. Diantarana, anu ilahar dipilampah dina “Upacara Ngaseuk” di kalangan masarakat Kanékés –nu ku balaréa mah leuwih dikenal salaku masarakat Baduy. Maranéhanana ngayakeun komunikasi ka Dangdayung Trusnawati atawa Déwi Sri –minangka nu ngawasa paré katut pepelakan séjénna, maké média “komunikasi” anu wujuding: Tari Ngalage –dipirig ku angklung, dibarung ku kawih. Ngibing bari ngurilingan Pupuhunan ieu téh, ditujulkeun ka Nyai Sri. Kitu deui di wewengkon Priangan –saperti di Rancakalong Sumedang, masih kénéh kapanggih tari Sunda keur ngareuah-reuah upacara-upacara penting –acara: Sérén Taun, Mitembeyan Panén, Ngaruat, Rebo Wekasan, jeung sajabana. Éta tarian téh dibéré rupa-rupa jujuluk, aya nu nyebut: Tari Sampiung –pédah aya lagu pangiring nu ngaranna Sampiung, aya ogé anu nyebut: Ibing Ngékngék –pédah waditra pangiringna ku Tarawangsa anu ku maranéhna disebut Ngékngék. Kitu deui di pakidulan Ciamis, aya Ibing Ronggéng. Nyai Ronggéng téh minangka janggélékna personifikasi Putri Samboja anu mingpin sabubuhan lalaki dina raraga nyusun kakuatan pikeun males pati pédah salakina aya nu maténi, jeung keur mertahankeun wewengkonna tina serbuan bajo –bajag laut. Ieu ibing téh, tungtungna mekar jadi Ketuk Tilu –minangka ibing pergaulan.
Lebah dieu, urang Sunda téh meujeuhna nganuhunkeun ka paraluluhur, patali jeung geus ngarundaykeun seni anu ka dieunakeun jadi bibit buit tradisi kahirupan urang Sunda.
Ronggeng Gunung

Ibing Sosial
Sagala rupa gé di ieu dunya téh teu aya nu cicing, tapi salawasna teu weléh bagerak. Ku kituna, tradisi ogé teu weléh mekar. Atuh dina kaitan “komunikasi” na ogé, nya kitu deui ngilu mekar. Kamekaran –atawa sebut waé: pergéséran ajén-inajén ibing karamat dina upacara-upacara adat karuhun, ngésér kana ibing hiburan dina pésta hahajatan. Cindekna mah, ibing nu tadina jadi média komunikasi jeung nu goib, ngajanggélék jadi média komunikasi antarmanusa. Salin jinisna ibing ritual kana ibing sosial téh, aya patula-patalina jeung modernisasi. Sarat-sarat keur mepekan ajén-inajén sangkan leuwih punjul, nungtut dilarapkeun sangkan leuwih sampurna. Ti mimiti gerak jeung papakéan –kaabus masieup anu ngaribingkeunana. Dina hal ieu, teu carang anu lalajo ogé milu meunteun jeung milu méré saran pikeun nyampurnakeun.
Tari Wayang, disangling deui ku perwatekan anu diluyukeun kana perwatekan carita wayang. Antukna, lahir Ibing Wayang jeung Ibing Topéng. Atuh kabeungharan gerakna beuki euyeub, luyu jeung perwatekan nu jadi kasangtukangna. Bréh baé wujud gerak jeung sikep ibing anu mandiri, dibarung ku: wanda; sari; katut alur, binarung jeung kaparigelanana. Kitu deui, dituturkeun ku panyalarasan gending iringanana katut anggoan jeung sagala rupaning pancarakenna.
Ibing Topéng, minangkana mah pangnyongcolangna diantara Tari Wayang. Di sagigireun kitu –saperti Ibing Topéng Babakan ti Cirebon upamana, teu weléh jadi pamatri dina saban upacara hahajatan –di sagigireun nanggap wayang kulit. Kitu deui, sok dipaké mirig upacara Ngunjung di makam luluhur. Keur anu ngaleukeunan ngulik mah, aya nu boga anggapan yén éta ibing téh ngandung ajén-inajén perlambang “siklus kahirupan” –dina saban perwatekan Ibing Topéng Babakan. Ari perlambang nu kakandung dina Ibing Topéng Babakan ieu téh, kaunggel dina: Tari Panji; Pamindo; Tumenggung; jeung Ibing Kalana, tur mancer kana cabang Ibing Keurseus ti Priangan ngaliwatan Ibing Lenyepan; Ibing Nyatria; Ibing Monggawa; jeung Ibing Ngalana. Ibing Keurseus téh, mangrupa hiji conto pamekaran ibing Sunda kana tahap anu leuwih hadé. Atawa beunang ogé disebut ngangsrod ka hareup, lain ngésér ka gigir. Dina mangsa kajayaanana –sabudeureun taun 1930-an, Ibing Keurseus téh geus ngalantarankeun ibing pria di Tatar Sunda leuwih daria –kajurung ku ayana ibing pasanggiri anu harita leuwih sohor disebut: Kongkurs Ngibing. Ngaliwatan éta pasanggiri, geus dibakukeun kriteria pameunteunan anu diwangun ku: Bisa; Wanda; Wirahma; Sari; jeung Alus –anu nyakup: kaparigelan, wirahma, panghayatan, katut kasalarasan sagemblengna.
Cabang séjeéna anu nyumber kana Ibing Wayang, nya éta ibing padikana R. Tjétjé Somantri –anu muncul taun 1950-an. Dicikalan ku Ibing Puja; Ibing Déwi; Ibing Anjasmara; Ibing Graéni; jeung Ibing Koncaran, anu nepi ka kiwari masih kénéh mangrupakeun “ibing poko” keur kalangan putri. Ari ibing keur kalangan putra, éta mah dimimitian tina: Ibing Samba; Ibing Panji; jeung Ibing Pamindo. Teu bisa dipungkir, yén R. Tjétjé Somantri téh geus mangrupa panyambung keur kalumangsungan ibing Sunda. Iwal ti kitu téh deuih, karyana geus ngalahirkeun “idiom-idiom” gerak minangka upaya keur ngarekahkeun, anu beuki dieu beuki pada naluturkeun –kaabus ogé lebah pirigan ibingna, anu geus ngalantarankeun daya tarik luar biasa.

Panutup
Sagala rupaning kamekaran katut ngagésérna ajén-inajén, geus karandapan. Nepi ka danget ieu mah kakarék nepi ka lebah jadi média komunikasi anu gumebyar pikeun ngahibur wungkul –acan nepi kana tujuan keur ngahudang pangalaman éstétik parapangajén. Sok sanajan anu disebut parapangajén sarupa kitu téh, can aya di kalangan masarakat.
Yén ibing Sunda mibanda asal-usul mandiri tur tumuwuh di tengah masarakat –lain ti golongan éksklusif, bisa ditinggal tina sababaraha istilah gerakan –anu teu sabaraha géséh tina hirup kumbuhna sapopoé. Upamana baé, aya gerakan anu disebut: du’um peuteuy; mesék roay; lélé ngosér jeung lélé nenggak; mujaér mundur; peucang kaanginan; gebés pacul; hayam kabuhulan; jeung réa-réa deui.
Sacara umum, teu aya gerakan anu ngagentak ngagunakeun tanaga nu kaleuleuwihi. Éstu basajan waé, tur walatra. Teu aya pamusatan di salah sahiji anggota badan, teu aya sikep anu nonggérak, teu aya réngkak anu tipepereket atawa mereketengteng –iwal ti dina Ibing Penca-na mah. Cindekna, teu aya nu méngpar tina gerakan sapopoé anu salawasna wajar teu dijieun-jieun.
Sok sanajan urang acan nepi kana tingkat kahirupan modern, teu aya salahna nataharkeun diri ka lebah dinya. Teu aya salahna deuih, upama urang mikirkeun ngadeudeukeutkeun tina kahirupan tradisi –sakumna anu geus diwariskeun ku karuhun ka alam modern anu kudu dihontal. Paréndéné kitu, teu kudu gurunggusuh rurat-rérét kana bahan-bahan pikeun ngotéktak téh ti paluaran. Tradisi tari Sunda ogé apanan acan mantep, loba kénéh lolongkrang pikeun henteu tipoporosé nyieun karya anyar anu justru ngabalukarkeun “ngarabut akar-jangkarna”. Akar katut bahan bakuna, geus nyampak. Anu rék ngagulang-gapér ibing, masih ngabogaan lolongkrang anu jembar kénéh pikeun ngedalkeun keretegna anu Nyunda.


***

Senin, 06 Juli 2015

Ajir jeung Ngokoh dina Kariaan



Di Batukarut, upama rék hajat atawa kariaan téh, ngondang ka balaréana maké udud. Nu diondang, dicirian ku lobana udud. Ondangan ku udud sabungkus, disebutna: diajir. Demi anu ondangan ku udud sabatang, disebutna: ngokoh. Lain wewengkon, lain deui tradisina. Paingan aya babasan: “jawadah tutung biritna”, sacarana-sacarana.
Anu olah-olah teh, lain ngan anu kariaan bae, tapi dulur-dularna oge.

Ajir jeung Ngokoh
Lembur Batukarut téh perenahna di Désa Talagasari, Kacamatan Sagalahérang –bawahan Kabupatén Subang. Kaayaan patempatanana mah, kaasup lumrah pilemburan baé –ngan loba batu. Éta sugan pédah kitu, nu matak dingaranan lembur “Batukarut” ogé. Lumrahna di urang, nu rék hajat atawa kariaan –boh sunatan boh kawinan, ari ngondang téh sok ku surat ondangan baé –ka nu lian jeung ka nu anggang mah. Atuh, cukup ku lisan –lamun ka dulur atawa baraya, kitu deui ka tatangga deukeut mah. Tapi, di lembur Batukarut mah lain deui. Ondangan téh, ku udud alias roko. Ududna, naon baé anu jajartengah –teu murah teuing, teu mahal teuing. Ngan, rada unik. Nu diondang, dipasing-pasing deui jadi dua “kelas” –anu dicirian ku lobana udud. Kelas hiji, diondangna ku udud sabungkus –nu kitu, disebutna: diajir. Sedengkeun anu kelas dua, diondangna ku udud sabatang –nu kieu mah, disebut: ngokoh. Sok sanajan kitu, anu diondang téh sabenerna mah ngabogaan “hak pilih” –naha rék narima ajiran atawa rék narimah ondangan ngokoh baé. Jadi, sanajan ku nu rék hajat téh, “si Dadap” kapilih jadi kelas hiji –dibéré udud sabungkus téa, tapi lamun “si Dadap” ngan milih narima udud sabatang –kelas dua, bisa baé. Kaayaan kitu téh, biasana, upama si anu diondang ngarasa “henteu kauntup” nyumponan “andilan” dina waktuna.
Anu “diajir” –nya éta, nu meunang udud sabungkus téa, boga “kawajiban mutlak” pikeun nyambungan. Disebut kawajiban mutlak téh, pédah éta lamun manéhna henteu nyambungan, konsékwénsi-na téh: “bakal ditagih ku pihak nu boga hajat” –teu béda ti anu boga hutang baé. Ari nu “ngokoh” –nya éta, nu narima ondangan udud sabatang téa, rék nyambungan atawa rék henteu nyambungan, teu boga kawajiban mutlak alias mangsa bodo –najan dina émprona mah, kacida ngéstokeunana anu diarondang téh.
Gedéna duit panyambungan pikeun nu diajir, geus ditetepkeun “wates minimum” na –disebutna téh: andilan. Demi mikeunna duit andilan téa, lain ka anu boga hajat, tapi ka “panitia hajat”. Di dinya, panitia hajat geus boga “daptar ajiran”. Jadi, singsaha baé anu diajir datang –bari masrahkeun duit andilanana, panitia kari nyatetkeun baé. Ku lantaran kitu, duit keur nyambungan –andilan téa, tara ieuh diamplopan atawa dibungkus dibuni-buni –cara ilaharna di tempat séjén, ieu mah “ditembrakkeun” baé. Tah lamun geus kitu, anu hajat –nu ngondang téa sasat malik jadi boga hutang ka saban nu méré andilan. Konsékwénsi-na téh, manéhna wajib nyambungan –mulangkeun deui sajumlah nu ku manéhna geus katarima ti singsaha anu méré andilan téa samangsa isuk-jaganing-géto, anu andilan ngayakeun hajat sarta ngondang manéhna.

Ceuyah
Ondangan –boh ajiran, boh ondangan ngokoh, resmina mah ditujulkeun ka kapala kulawarga –salakina. Tapi, ari dina émprona mah pamajikanana ogé milu “nyambungan mandiri” –ku béas jeung duit. Ku kituna, anu tas hajat téh éstu mucekil kacida –duit merekis, béas ngalayah. Jaba éta téh can ngitung panyambungan ti dulur atawa barayana –sabab dulur jeung baraya mah lain deui nyambunganana téh. Dulur atawa baraya mah nyambunganana –lian ti duit jeung béas téh, ditambah ku kuéh-kuéh jeung cau deuih. Ari nu disebut kuéh-kuéh di dieu mah, sabangsaning kaolahan tina ketan, kaya-kayaning: opak; rangginang; kolontong; wajit; ulén; jeung sajabana. Atuh lamun aya anu rék hajat atawa kariaan téh, anu pak-pik-pek olah-olah téh, lain ngan anu rék boga hajat baé –dulur-dulurna ogé, ngilu obyag nyarieun kuéh keur nyambungan téa.
Biasana –sabubarna hajat, béas anu medah-meduh ngalayah ampir teu kawadahan téh, osok dijual atawa dieclokkeun –diinjeumkeun ka saha baé anu butuheun. Ari kuéh-kuéh jeung cau mah, keur dipaké pamulang ka pamajikan-pamajikan anu nyambungan ku béas jeung duit téa –nyambungan mandiri. Sabab, pamajikan anu nyambung mandiri mah, tara disuguhan dahar –ukur disuguhan ngopi. Sedengkeun anu andilan jeung nu ngokoh –salakina mah, disuguhan dahar.
Ari lebah nyuguhan dahar ka anu nyarambungan téa, éstuning basajan pisan –pangpangna, lebah deungeunna. Mun kudu diijir mah, kira-kira saperlima-na tina pangaji andilan téh. Nu matak, hajat téh méh sarua jeung muka céngcéléngan –keur nu ngayakeun hajat mah. Kalan-kalan, pangasilan tina hajat téh bisa diandelkeun keur “nambahan moda”l leuleutikan atawa keur nyieun imah leutik-leutik baé mah.
Kumaha atuh upama ninggang di anu teu boga sunataneun atawa kawinkeuneun? Tegesna, anu teu boga alesan pikeun ngayakeun hajat, padahal manéhna téh geus loba neundeun andilan di nu séjén. Keur anu kitu, biasana mah sok néangan “pihajateun”. Naha nyalametkeun orok opat puluh poéna, atawa nyalametkeun pindah imah téa. Upama teu boga budak sunataneun, bisa baé nginjeum budak dulur atawa budak tatangga nu teu mampuh. Pokona mah, sangkan bisa hajat.


***