Sabtu, 28 Februari 2015

Praja Muda Karana



Pramuka adalah proses pendidikan di luar lingkungan jam belajar sekolah dan di luar lingkungan keluarga, dalam bentuk kegiatan yang menarik; menyenangkan; sehat; teratur; terarah; praktis, yang dilakukan di alam terbuka, dengan prinsip dasar kepramukaan dan metode kepramukaan, yang sasaran akhirnya adalah pembentukkan watak; akhlak; dan budi pekerti luhur.
Gerakan Pramuka Gudep 01163-01164, Pangkalan SMP Negeri 2 Garut

Pramuka Siaga
Siaga adalah sebutan bagi anggota Pramuka, yang berusia antara 7 hingga 10 tahun. disebut Pramuka Siaga karena sesuai dengan kiasan masa perjuangan bangsa Indonesia, yakni: ketika rakyat Indonesia “menyiagakan” dirinya untuk mencapai kemerdekaan dengan berdirinya organisasi Boedi Oetomo tahun 1908 sebagai tonggak awal perjuangan bangsa Indonesia.
Kode Kehormatan bagi Pramuka Siaga, terdiri dari: Dwi Satya –Janji Pramuka Siaga, dan Dwi Dharma –Ketentuan Moral Pramuka Siaga.
Dwi Satya: “Demi Kehormatanku, Aku Berjanji, Akan Bersungguh-sungguh: (1) menjalankan kewajibanku terhadap Tuhan, Negara Kesatuan Indonesia, dan mengikuti Tatakrama Keluarga; (2) setiap hari berbuat kebajikan.”
Dwi Dharma: (1) Siaga berbakti kepada ayah dan ibundanya; (2) Siaga berani dan tidak putus asa.
Dua Kode Kehormatan tersebut di atas, adalah standar moral bagi seorang Pramuka Siaga dalam bertingkah laku di masyarakat.
Satuan terkecil dalam Pramuka Siaga, disebut: Barung –biasanya terdiri dari 5 hingga 10 anggota. Barung –berarti: “tempat penjaga ramuan bangunan” diberi nama dengan warna, misal: Barung Hijau; Barung Merah; dan lain-lain. Sebuah Barung beranggotakan paling banyak sepuluh orang Pramuka Siaga, dan dipimpin oleh seorang Pinrung –Pemimpin Barung yang dipilih oleh Barung itu sendiri. Masing-masing Ketua Barung, nantinya, akan memilih satu orang dari mereka yang akan menjadi Sulung –Pemimpin Barung Utama. Setiap empat Barung –kurang lebih beranggotakan 40 orang, dihimpun dalam sebuah Perindukan. Sebuah Perindukan dipimpin oleh Sulung.
Syarat Kecakapan Umum (SKU) merupakan syarat wajib yang harus dipenuhi oleh seorang Pramuka Siaga, untuk mendapatkan Tanda Kecakapan Umum (TKU) –yang berbentuk sebuah Janur, dikenakan pada lengan baju sebelah kiri di bawah Tanda Barung. TKU dalam Pramuka Siaga, terdiri dari tiga tingkatan: Siaga Mula; Siaga Bantu; dan Siaga Tata.
Pembina Pramuka Siaga Putra, dipanggil dengan sebutan: Yanda. Sedangkan Pembina Pramuka Siaga Putri, dipanggil dengan sebutan: Bunda.
Pembantu Pembina Pramuka Siaga Putra, dipanggil dengan sebutan: Pakcik. Sedangkan Pembantu Pembina Pramuka Siaga Putri, dipanggil dengan sebutan: Bucik.
Kegiatan untuk Pramuka Siaga, salah satunya adalah: Pesta Siaga –berupa Persari (perkemahan satu hari), tanpa menginap. Pesta Siaga diselenggarakan dalam bentuk: Permainan Bersama –berupa kegiatan keterampilan kepramukaan yang dikemas dengan permainan, Pasar Siaga –berupa simulasi dari situasi di pasar yang diperankan oleh Pramuka Siaga, dan Pentas Seni Budaya.
Kakak Pembina Pramuka, Pangkalan SMPN 2 Garut.
Prestasi yang diraih oleh Anggota Pramuka Pangkalan SMP Negeri 2 Garut

Pramuka Penggalang
Penggalang adalah sebuah tingkatan dalam Pramuka, setelah Siaga. Biasanya, anggota Pramuka Penggalang berusia antara 11 hingga 15 tahun. Pramuka Penggalang memiliki beberapa tingkatan dalam golongannya, yakni: Penggalang Ramu; Penggalang Rakit; Penggalang Terap; dan Penggalang Garuda.
Kode Kehormatan bagi Pramuka Penggalang, terdiri dari: Tri Satya –Janji Pramuka Penggalang, dan Dasa Dharma –Ketentuan Moral Pramuka Penggalang.
Tri Satya: “Demi Kehormatanku, Aku Berjanji, Akan Bersungguh-sungguh: (1) menjalankan kewajibanku kepada Tuhan Yang Maha Esa, Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan mengamalkan Pancasila; (2) menolong sesama hidup dan mempersiapkan diri membangun masyarakat; (3) menepati Dasa Dharma.
Dasa Dharma: (1) takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa; (2) cinta alam dan kasih sayang kepada manusia; (3) patriot yang sopan dan kesatria; (4) patuh dan suka bermusyawarah; (5) rela menolong dan tabah; (6) rajin, terampil, dan gembira; (7) hemat, cermat, dan bersahaja; (8) disiplin, berani, dan setia; (9) bertanggung jawab dan dapat dipercaya; (10) suci dalam pikiran, perkataan, dan perbuatan.
Dua Kode Kehormatan tersebut di atas, adalah standar moral bagi seorang Pramuka Penggalang dalam bertingkah laku di masyarakat.
Satuan terkecil dalam Pramuka Penggalang, disebut: Regu. Regu dalam Pramuka Penggalang, memiliki nama-nama untuk mengidentifikasi Regu tersebut. Nama Regu putra, biasanya diambil dari nama-nama binatang, misal: Regu Harimau; Regu Elang; dan lain-lain. Sedangkan nama Regu putri, biasanya diambil dari nama-nama bunga, misal: Regu Mawar; Regu Melati; dan lain-lain. Setiap Regu dipimpin oleh seorang Pinru –Pimpinan Regu. Dalam Gugus Depan Penggalang –dapat berisi lebih dari satu Regu putra/putri, terdapat anggota yang bertugas untuk mengkoordinir Regu-Regu tersebut. Anggota tersebut dinamakan Pratama –Pemimpin Regu Utama, untuk putra, dan Pratami –untuk putri. Satuan Pramuka Penggalang yang terdiri dari 4 hingga 5 Regu (kurang lebih 40 orang anggota), dinamakan: Pasukan. Pratama/Pratami inilah, yang berfungsi sebagai Ketua Dewan Pasukan Penggalang.
Pembina Pramuka Penggalang, dipanggil dengan sebutan: Kakak.
Kegiatan Pramuka Penggalang, salah satunya adalah: Jambore. Jambore merupakan pertemuan Pramuka Penggalang, dalam bentuk perkemahan besar yang diselenggarakan oleh Kwartir Gerakan Pramuka, seperti: Jambore Ranting; Jambore Cabang; Jambore Daerah; Jambore Nasional; Jambore Regional; dan Jambore se-Dunia.
Kakak Pembina Pramuka
Kakak Pembina Puteri

Penegak
Penegak adalah tingkatan dalam Pramuka, setelah Penggalang. Biasanya, anggota Pramuka Penegak berusia antara 16 hingga 20 tahun. Pramuka Penegak memiliki beberapa tingkatan dalam golongannya, yakni: Penegak Bantara; Penegak Laksana; dan Penegak Pandega.
Satuan terkecil dalam Pramuka Penegak, disebut: Sangga –terdiri atas 7 hingga 10 orang anggota. Sangga dipimpin oleh salah seorang Penegak, yang disebut: Pinsang –Pimpinan Sangga. Setiap empat Sangga, dihimpun dalam sebuah: Ambalan. Sedangkan Ambalan, dipimpin oleh Pradana. Nama Ambalan, biasanya diambil dari nama pahlawan; nama tokoh pewayangan; dan lain sebagainya. Di dalam Ambalan, terdapat struktur organisasi yang lengkap, seperti: Kerani –juru tulis; Juang –juru uang; Juru Adat atau Pemangku Adat; dan Anggota.
Pramuka Penegak, selain aktif di Ambalannya masing-masing, juga dapat bergabung dalam Saka –Satuan Karya, misal: Saka Bhayangkara –diselenggarakan oleh Polri; Saka Wanabhakti –diselenggarakan oleh Perhutani; dan lainnya.
Kegiatan Pramuka Penegak, salah satunya adalah: Raimuna. Kata “Raimuna” berasal dari bahasa suku asli di wilayah Yapen Waropen –Papua, terdiri dari kata “Rai” dan “Muna” yang artinya: pertemuan ketua suku dalam suatu forum yang menghasilkan suatu tujuan suci untuk kepentingan bersama. Raimuna merupakan pertemuan Pramuka Penegak dan Pandega, dalam bentuk perkemahan besar yang diselenggarakan oleh Kwartir Gerakan Pramuka, seperti: Raimuna Ranting; Raimuna Cabang; Raimuna Daerah; dan Raimuna Nasional.
Dalam Gerakan Pramuka ada tradisi: Ulang Janji, yakni: pengucapan kembali Tri Satya pada malam Hari Ulang Tahun Gerakan Pramuka. Ulang Janji hanya untuk Pramuka Penegak; Pandega; dan Anggota Dewasa.


***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar