Rabu, 31 Agustus 2016

Cagar Biosfer di Caribbean van Celebes



WAKATOBI adalah singkatan dari Wangi-Wangi, Kaledupa, Tomia, dan Binongko. Kabupaten yang berjuluk Caribbean van Celebes ini pada tahun 2012 ditetapkan sebagai kawasan Cagar Biosfer Dunia oleh Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO). Tidak hanya menjanjikan surga bawah laut yang menawan saja, WAKATOBI juga menawarkan wisata tradisi dan atraksi budaya yang mempesona.
WAKATOBI (Wangi-Wangi, Kaledupa, Tomia, Binongko), Sulawesi Tenggara.

Cagar Biosfer
Wakatobi merupakan salah satu kabupaten di Provinsi Sulawesi Tenggara. Ibu kota kabupaten ini terletak di Pulau Wangi-Wangi (penduduk setempat, menyebutnya sebagai Pulau Wanci). Sebelum menjadi daerah otonom, wilayah Kabupaten Wakatobi lebih dikenal sebagai Kepulauan Tukang Besi –terkenal sebagai tempat parapandai besi berasal. Parang dan pisau yang dibuat oleh pengrajin, terkenal sangat kuat, tajam, dan tahan karat.
UNESCO, menetapkan kawasan Taman Nasional Laut Wakatobi, sebagai salah satu kawasan cagar biosfer dunia. Penetapan Wakatobi sebagai cagar biosfer dunia itu disepakati pada pertemuan "Penasihat Internasional Committee untuk Biosphere Reserve Program MAB (Man and Biosphere) UNESCO" ke-18 di Paris tanggal 2-4 April 2012. Terdapat tiga kepentingan yang dilindungi UNESCO dalam menetapkan TN Wakatobi sebagai pusat cagar biosfer dunia tersebut, yaitu: kearifan lokal masyarakat Wakatobi, kelestarian lingkungan, dan kepentingan ekonomi masyarakat yang berkelanjutan. Kearifan Lokal yang dilindungi di Wakatobi adalah menyangkut tradisi budaya masyarakat dalam memperlakukan alam dan mengambil sesuatu dari alam, Kelestarian Lingkungan yang dilindungi karena kawasan perairan laut TN Wakatobi memiliki keragaman terumbu karang dan biota laut yang cukup tinggi dibandingkan dengan kawasan-kawasan lain yang ada di dunia, Kepentingan Ekonomi yang dilindungi menyangkut bagaimana masyarakat di kawasan Wakatobi dapat memanfaatkan potensi sumber daya alam yang ada secara berkelanjutan, tanpa mengganggu keseimbangan lingkungan.
Indonesia telah mengenal cagar biosfer sejak tahun 1977. Saat itu, UNESCO  menetapkan  4 wilayah di Indonesia sebagai cagar biosfer. Wilayah tersebut berada di sekitar taman nasional di daerah Cibodas (Cagar Biosfer Cibodas meliputi kawasan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango Provinsi Jawa Barat yang mencakup wilayah Kabupaten Bogor, Kabupaten Sukabumi dan Kabupaten Cianjur), Tanjung Putting (Cagar Biosfer Tanjung Puting Provinsi Kalimantan Tengah meliputi daerah Kabupaten Kotawaringin mencakup hutan hujan tropika dataran rendah, hutan tanah kering, hutan rawa air tawar, hutan mangrove, hutan pantai dan hutan sekunder. Kawasan ini merupakan kediaman orang utan, bahkan saat ini menjadi pusat rehabilitasi orang utan terbesar di dunia. Setidaknya ada tiga tempat rehabilitasi, yakni: Tanjung Harapan, Pondok Tanggui, dan Camp Leakey.), Lore Lindu (Cagar Biosfer Lore Lindu Sulawesi Tengah meliputi wilayah administratif Kabupaten Donggala dan Kabupaten Poso, ekosistem zona inti adalah hutan pamah tropika, hutan pegunungan bawah, hutan pegunungan dan hutan sub Alphin pada ketinggian di atas 2000 meter di atas permukaan laut. Di zona inti Lore Lindu terdapat berbagai satwa endemik, beberapa yang terkenal antara lain: babi rusa, tarsius dan maleo. Selain tumbuhan dan satwa, kawasan ini juga terkenal dengan situs batu megalitiknya), dan Komodo (Cagar Biosfer Komodo Kabupaten Manggarai, Provinsi Nusa Tenggara Timur, mencakup Pulau Komodo, Pulau Rinca, Pulau Padar dan 26 pulau lainnya).
Seiring dengan berjalannya waktu, jumlah wilayah yang ditetapkan sebagai cagar biosfer terus bertambah. Hingga saat ini, Indonesia telah memiliki 8 cagar biosfer. Cagar Biosfer Pulau Siberut ditetapkan pada tahun 1981, terletak di lepas pantai Sumatera Barat, dipisahkan oleh Selat Mentawai. Ekosistemnya ditutupi oleh hutan primer Dipterocarpaceae, hutan primer campuran, rawa, hutan pantai dan hutan mangrove. Cagar Biosfer Gunung Leuser ditetapkan pada tahun 1981, meliputi Provinsi Sumatera Utara dan Nangroe Aceh Darussalam. Gunung Leuser bisa dikatakan mewakili ekosistem yang paling lengkap meliputi hutan pantai, dan hutan hujan tropika dataran rendah sampai pegunungan. Kawasan ini juga menjadi tempat tinggal harimau, gajah dan badak. Cagar Biosfer Giam Siak Kecil-Bukit Batu ditetapkan pada tahun 2009, berada dalam wilayah administratif Provinsi Riau. Kawasan intinya terdiri dari Suaka Margasatwa Giam Siak Kecil, Suaka Margasatwa Bukit Batu, konsesi hutan produksi Sinar Mas serta eks HPH PT. Rimba Rokan Lestari.

Ciri Khas WAKATOBI
Pulau Wangi-Wangi
Budaya: Upacara adat Kabuenga, upacara mencari jodoh/mencari pasangan hidup.
Makanan Khas: Kambalu adalah makanan pengganti nasi yang terbuat dari talas dan santan kelapa yang dibungkus daun kelapa dan dikukus.
Tempat Wisata: Benteng Tindoi, Benteng Liya (di dalam benteng terdapat Masjid Keraton Liya), Benteng Mandati Tonga, Benteng Togo Molengo, dan Mercusuar.
Pulau Kaledupa
Budaya: Tari Lariangi, Tari Hebalia (untuk mengusir roh-roh jahat yang membawa sial pada keluarga atau kampung), Tari Sombo Bungkale (menggambarkan proses sombo atau pingit), Tari Honari (sebagai ungkapan kegembiraan gadis-gadis setelah selesai di sombo (dipingit), Pesta adat Karia’a, Tradisi pencak silat (seni bela diri Mansaa dan Posepaa).
Makanan Khas: Tombole (sejenis lemper terbuat dari ubi dan cara memasaknya dengan menggunakan teknik Hebatu yakni menggunakan batu)
Tempat Wisata: Situs sejarah (Makam Tua dan Kamali), Benteng Ollo (di dalam benteng terdapat Masjid Tua), dan Benteng La Donda.
Pulau Tomia
Budaya: Pesta Adat Safara (saling menyiram satu sama lain yang diawali dengan doa sesepuh adat), Tradisi Bose-Bose (menghiasi perahu dengan hiasan berwarna-warni dan dimuati sajian masakan tradisional, seperti Liwo, lalu diarak mengelilingi pantai dari Dermaga Patipelong menuju Dermaga Usuku sampai ke Selat One Mobaa), Tari Sajo Moane, Tari Saride (mengungkapkan rasa syukur masyarakat setelah menyelesaikan pekerjaan dengan sukses).
Terdapat Kerajinan Tempurung Kelapa (tempurung kelapa dibuat dalam berbagai bentuk seperti alat dapur, hiasan ruang tamu, dan lain-lain).
Tempat Wisata: Benteng Patua, Benteng Suo-Suo, dan Masjid Tua Onemay.
Pulau Binongko
Budaya: Tari Balumpa (tarian pergaulan yang ditampilkan oleh penari wanita untuk menyambut para tamu terhormat).
Makanan Khas: Luluta merupakan nasi ketan dengan santan yang dimasukkan ke dalam bambu, lalu dibakar. Parrande merupakan jenis penganan yang berupa sup ikan (potongan ikan parrande yang dibumbui bawang merah, bawang putih, asam, sereh dan kunyit). Kasuami merupakan ampas parutan singkong yang diperas berulang-ulang, kemudian dibentuk segitiga mirip nasi tumpeng. Biasanya dilumuri dengan bawang. Karasi merupakan jenis cemilan yang terbuat dari tepung beras, dicetak lalu digoreng, bentuknya mirip lipatan jaring, dipadu dengan kopi atau teh panas.
Terdapat Kerajinan Tukang Besi (Jenis Parang dapat dibuat sesuai pesanan pelanggan).
Tempat Wisata: Benteng Palahidu, dan Benteng Wali.


***

Senin, 29 Agustus 2016

ada Domba Garut di Istana Bogor



Domba Garut merupakan simbol kebangkitan ekonomi kerakyatan, meskipun dagingnya selama ini menjadi “Kambing Hitam” bagi segala penyakit kolesterol dan darah tinggi.
Presiden Joko Widodo bersama parapemenang Kontes Domba Garut dan Kambing

Piala Kemerdekaan RI
Sabtu tanggal 27 Agustus 2016 pagi, suasana Istana Kepresidenan Bogor dan Kebun Raya Bogor tampak berbeda. Pagi itu, lebih dari 700 domba dan 700 peternak berkumpul mengikuti “Kontes Domba Garut dan Kambing” yang digagas langsung oleh Presiden Joko Widodo dan diinisiasi oleh Himpunan Peternak Domba dan Kambing Indonesia (HPDKI). Selain memperebutkan Piala Kemerdekaan, kontes itu juga menyediakan uang pembinaan yang mencapai puluhan juta rupiah bagi parapemenang. Presiden sengaja menggelar Kontes Domba Garut dan Kambing di Istana Bogor, untuk memberikan pesan, bahwa: Domba Garut merupakan “simbol kebangkitan ekonomi kerakyatan”, sekaligus memperingati Hari Lahir Peternakan dan Kesehatan Hewan yang ke-180 yang diperingati tanggal 26 Agustus-26 September setiap tahun –ke-180, dihitung dari saat Pemerintah Hindia Belanda menerbitkan plakat pelarangan pemotongan sapi betina produktif pada hari itu.
Ada empat kategori yang akan dikonteskan dalam ajang tersebut, yakni: Raja Pedaging, Raja Petet, Raja Kasep, dan Ratu Bibit.
kategori Raja Pedaging, memilih domba yang paling banyak menghasilkan daging.
kategori Raja Petet, memilih domba yang berusia remaja namun berpotensi menjadi pejantan yang menghasilkan daging berkualitas.
kategori Raja Kasep, memilih domba yang berbadan kekar, bertanduk bagus, berbulu halus dan memiliki kondisi kesehatan prima.
kategori Ratu Bibit, memilih domba betina yang mampu menghasilkan anakan berkualitas dan berpotensi memiliki daging yang baik.
Kontes Domba Garut dan Kambing di Istana Bogor

Plakat 26 Agustus 1836
Kesadaran tentang arti penting keamanan produk pangan asal hewan, secara historis sudah dimulai jauh sebelum Indonesia merdeka. Untuk kepentingan operasi militer Belanda (penanganan kesehatan kuda kavaleri dan pengawasan makanan asal hewan) dikirim dokter hewan pertama asal Belanda KA Copiters pada 1820. Kemudian dilanjutkan dengan pengaturan tentang peternakan dan kesehatan hewan pada zaman Pemerintahan Hindia Belanda dengan menerbitkan Plakat pada 26 Agustus 1836 tentang Larangan Pemotongan Sapi Betina Produktif, yang mengatur: (1) pemotongan hewan betina bertanduk, dan (2) lalu-lintas ternak antardaerah untuk pencegahan penyakit menular. Adanya pengaturan lalu-lintas ternak asal daerah terbukti sangat penting, karena terbukti wabah penyakit hewan menular pernah terjadi, seperti: (1) penyakit Septichenia Epizooticae (ngorok) pada 1884; (2) penyakit Anthrax (radang limpa) 1884; (3) penyakit Aptae Epizooticae (mulut dan kuku) 1887; dan (4) penyakit Rinderpest (sampar menular) tahun 1897. Pada tahun 1936, Pemerintah Hindia Belanda juga menerbitkan Staatsblad Nomor 614 Tahun 1936 tentang Pelarangan Pemotongan Sapi Betina Produktif –dan beberapa Ordonansi yang masih digunakan di era Kemerdekaan. Selanjutnya sejarah mencatat bahwa pembangunan peternakan di negeri ini, diatur oleh beberapa perundang-undangan, yaitu diantaranya: di masa Orde Baru, lahirnya Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1967 tentang Pokok-pokok Peternakan dan Kesehatan Hewan, serta di era Reformasi yaitu ditandai lahirnya Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2009 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan –yang kemudian direvisi oleh Mahkamah Konstitusi atas beberapa pasal melalui keputusan MK Nomor 137/PUU-VII/2009. Dari peristiwa-peristiwa di atas, maka pada Tanggal 26 Agustus 1836 telah dipilih sebagai Hari Lahir Peternakan dan Kesehatan Hewan dan mulai tanggal 26 Agustus 2003 yang lalu segenap masyarakat peternakan dan kesehatan hewan telah menandatangani Hari Lahir dan Bulan Bhakti Peternakan dan Kesehatan Hewan.


***

Minggu, 28 Agustus 2016

Roket Rasa Garut



Komurindo dan Kombat merupakan upaya untuk menciptakan ajang yang memancing kreativitas generasi muda di bidang ilmu pengetahuan teknologi penerbangan dan antariksa. Kegiatan ini menjadi acara tahunan setiap Agustus untuk memperingati lahirnya Undang-Undang Keantariksaan dan merupakan hasil kerjasama LAPAN, Kementerian Riset Teknologi dan Perguruan Tinggi, serta Pemerintah Kabupaten Garut. Parapeserta diharapkan menjadi pengembang keantariksaan dan dengan kompetisi ini akan mendorong generasi muda memahami teknologi antariksa, satelit, dan roket, untuk selanjutnya menjadi sebuah edukasi bagi publik, sehingga masyarakat mengerti dan mendukung keantariksaan.

Komurindo Kombat 2016
Komurindo –Kompetisi Muatan Roket dan Roket Indonesia adalah kompetisi tahunan rancang bangun muatan roket dan roket EDF tingkat perguruan tinggi yang diselenggarakan sejak tahun 2009. Dalam ajang ini, para-mahasiswa ditantang untuk membangun suatu sistem monitoring dan pengukuran yang stabil, akurat, dan presisi di bidang peroketan. Selain itu, mahasiswa juga belajar membangun roket EDF (Electric-Ducted-Fan) –roket dengan pendorong motor listrik. Kegiatan ini akan meningkatkan kemampuan mahasiswa dalam rancang bangun serta pengujian roket dan muatannya. Kompetisi ini sekaligus meningkatkan kemampuan mahasiswa dalam teknologi penginderaan jauh dan sistem otomasi robotika pada muatan roket. Dalam kegiatan ini, parapeserta Komurindo meluncurkan muatan roket dan ditopang menggunakan roket yang telah disediakan panitia. Muatan roket yang diluncurkan berisi satelit kecil yang bisa merekam citra permukaan, ketinggian, suhu, serta indikator-indikator lainnya. Roket diluncurkan menggunakan perangkatnya, sedangkan informasi atau data yang ditangkap oleh muatan roketnya akan diterima melalui antena masing-masing tim yang kemudian ditampilkan pada layar komputer. Sementara itu, sejumlah tim lainnya meluncurkan roket EDF untuk dihitung jarak tempuhnya.
Parasiswa SMPN 2 Garut di depan Roket EDF, Santolo Pameungpeuk Garut.
Kombat –Kompetisi Muatan Balon Atmosfer adalah kompetisi untuk mengamati atmosfer dari permukaan bumi dengan menggunakan balon sonde atau radiosonde. Radiosonde  adalah sebuah peralatan yang digunakan pada balon cuaca yang mengukur berbagai parameter atmosfer dan mengirimkan mereka ke penerima tetap. Radiosonde dapat beroperasi pada frekuensi radio 403 MHz atau 1680 MHz dan kedua jenis tersebut dapat disesuaikan sedikit lebih tinggi atau lebih rendah sebagaimana yang diperlukan. Sebuah Rawinsonde adalah Radiosonde yang dirancang untuk hanya mengukur kecepatan dan arah angin. Rawinsonde biasanya disebut juga sebagai Radiosonde. Balon sonde tersebut akan memberikan informasi mengenai parameter-parameter atmosfer, seperti: tekanan udara, ketinggian, posisi geografis (Bujur dan Lintang), temperatur, angin (baik kecepatan angin maupun arah angin), dan kelembaban relatif. Observasi mengenai kondisi atmosfer ini merupakan satu instrumen penting dalam berbagai berbagai penelitian di bidang terkait cuaca dan iklim. Kompetisi Muatan Balon Atmosfer ini berlangsung sejak tahun 2014.
Parapeserta  Komurindo dan Kombat mengikuti kejuaraan tersebut di Lapangan Udara TNI AU serta Balai Produksi dan Pengujian Roket LAPAN Pameungpeuk Garut.
Balon Atmosfer
Radiosonde

LAPAN
Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) adalah Lembaga Pemerintah Non Kementerian Indonesia yang melaksanakan tugas pemerintahan dibidang penelitian dan pengembangan kedirgantaraan dan pemanfaatannya. Empat bidang utama LAPAN yakni: penginderaan jauh, teknologi dirgantara, sains antariksa, dan kebijakan dirgantara. Pada 31 Mei 1962, atas arahan Presiden RI Soekarno, dibentuk Panitia Austronautika oleh Perdana Menteri Ir. H. Juanda –selaku Ketua Dewan Penerbangan RI dan R.J. Salatun –selaku Sekretaris Dewan Penerbangan RI. Untuk mendukung langkah tersebut, pada 22 September 1962 dibentuklah Proyek Roket Ilmiah dan Militer Awal (PRIMA) afiliasi AURI dan Institut Teknologi Bandung. Proyek PRIMA berhasil membuat dan meluncurkan dua roket seri Kartika berikut telemetrinya pada tahun 1964.
Pada 27 November 1963, dibentuklah Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) dengan Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 236 Tahun 1963 tentang LAPAN, untuk melembagakan penyelenggaraan program-program pembangunan kedirgantaraan nasional. Dalam hal penyempurnaan organisasi LAPAN, telah dikeluarkan beberapa Keppres, dengan yang terkini yakni Keppres Nomor 9 Tahun 2004 tentang Lembaga Non-Kementerian.
LAPAN melalui Pusat Sains dan Teknologi Atmosfer melakukan aktivitas yang berhubungan dengan pemantauan atmosfer bumi. Aktivitas tersebut, yakni: Pemantauan Iklim Bumi (curah hujan, suhu, dll.); Pemantauan lapisan atmosfer bawah dan permukaan (polusi, hujan asam, dan gas rumah kaca); Pemantauan lapisan atmosfer atas (lapisan ozon, radiasi matahari, dan aerosol pada atmosfer); Pemantauan dampak perubahan iklim dan pemanasan global; serta Kegiatan eksplorasi atmosfer.
Pusat Sains Antariksa melakukan kegiatan yang berhubungan dengan aktivitas luar angkasa, seperti: Penelitian aktivitas matahari sebagai sumber energi dan gangguan; Penelitian dan pengamatan orbit satelit, gangguan, dan sampah antariksa; Penelitian dan pengamatan benda langit dan benda lainnya di orbit rendah bumi; Penelitian medan magnet antariksa dan pemodelan medan geomagnetik regional; Penelitian aktivitas ionosfer regional dan pemanfaatan gelombang radio; serta Pengembangan instrumentasi dan basis data antariksa.
LAPAN memiliki beberapa fasilitas penting yang tersebar di seluruh Indonesia, untuk mendukung aktivitasnya. Kantor pusat LAPAN terletak di Jalan Pemuda Persil Nomor 1, Rawamangun, Jakarta Timur. Beberapa fasilitas LAPAN lainnya:
1.        Pusat Uji Terbang Roket Pameungpeuk (Garut, Jawa Barat). Pameungpeuk merupakan lokasi utama peluncuran roket-roket yang diujicobakan LAPAN. Di lokasi tersebut juga terdapat Stasiun Pengamat Dirgantara.
2.        Pusat Pengkajian Kebijakan dan Informasi Kedirgantaraan (Cikini, Jakarta Pusat). Pusat ini berlokasi di Jalan Cisadane Nomor 25 Cikini, Jakarta Pusat. Pusat ini terdiri dari bidang pengkajian kebijakan kedirgantaraan internasional, bidang pengkajian kebijakan kedirgantaraan nasional, bidang pengkajian hukum kedirgantaraan dan bidang sistem informasi kedirgantaraan.
3.        Pusat Penginderaan Jauh Pekayon (Pasar Rebo, Jakarta Timur). Kantor Pekayon merupakan kantor Deputi Bidang Penginderaan Jauh LAPAN. Selain itu juga sebagai Pusat Data Inderaja, Pusat Pengembangan Teknologi dan Pemanfaatan Inderaja, dan Pusat Kendali Satelit Cuaca dan Lingkungan LAPAN.
4.        Pusat Antariksa Bandung (Bandung, Jawa Barat). Pusat Antariksa Bandung merupakan kantor Deputi Sains Antariksa dan Dirgantara LAPAN, terdiri dari Pusat Sains Antariksa dan Pusat Sains dan Teknologi Atmosfer.
5.        Pusat Teknologi Penerbangan & Roket Rumpin (Bogor, Jawa Barat)
6.        Pusat Teknologi Satelit Rancabungur (Bogor, Jawa Barat). Rancabungur merupakan lokasi perakitan satelit pasca-pengembangan LAPAN-TUBSAT. Di lokasi tersebut juga terdapat Pusat Kendali Komunikasi Satelit LAPAN.
7.        Lapangan Eksperimen Tenaga Angin Bulakbaru (Jepara, Jawa Tengah)
8.        Loka Pengamatan Dirgantara Sumedang (Sumedang, Jawa Barat). Diresmikan pada 1975, LPD Tanjungsari melakukan aktifitas pengamatan matahari dan ionosfer. Instalasi yang terdapat di LPD Tanjungsari yakni Teleskop NGT 18 inci, Teleskop Celestron 8 inci, Spektrograf Radio SN 4000, Automatic Weather Station, dan Total Electro Content Meter.
9.        Balai Pengamatan Bumi Watukosek (Surabaya, Jawa Timur) Diresmikan pada 1983, BPD Watukosek melaksanakan kegiatan pengamatan atmosfer, klimatologi, dan aktivitas matahari. Instalasi yang terdapat pada BPD Watukosek antara lain BREWER Spectrometer, DASIBI Land Ozon Monitor, Teleskop Matahari H-alpha, Teleskop Sunspot, dan Balon Stratosfer.
10.    Loka Pengamatan Dirgantara Kototabang (Padang, Sumatera Barat). Diresmikan pada tahun 2001, SPD Kototabang berada pada ketinggian 900 m diatas permukaan laut (dpl). Lokasi ini memiliki beberapa antena untuk pengamatan atmosfer, seperti Radar Atmosfer Ekuatorial (EAR) berfrekuensi 27 MHz, Radiometer, Optical Rain Gauge, X-band Rain Radar, Desdrometer, Celilometer, dan VSAT.
11.    Balai Pengamatan Dirgantara Pontianak (Pontianak, Kalimantan Barat). Diresmikan pada 9 Januari 1986, BPD Pontianak melakukan aktifitas pengamatan atmosfer dan antariksa dengan menggunakan beberapa instalasi penting. Aktifitas tersebut antara lain: Pengamatan ionosfer, dengan instalasi: Ionosonde/CADI, TEC, WinRadio, dan Komrad HF; Pengamatan atmosfer atas, dengan instalasi MF-Radar; Penelitian medan magnet bumi, dengan instalasi MAGDAS-9; Penelitian meteor, dengan instalasi: AWS, M-AWS, dan WPR; serta Penelitian Kimia Atmosfer, dengan instalasi: Ozon Monitor dan CO2 Monitor.
12.    Balai Penginderaan Jauh Parepare (Parepare, Sulawesi Selatan). BPD Parepare beraktivitas dalam lingkup Klimatologi dan Inderaja. BPD ini bertugas sebagai Pusat Kendali Satelit Inderaja LAPAN.
13.    Stasiun Pengamat Dirgantara Manado (Manado, Sulawesi Utara). SPD Manado merupakan stasiun pengamat cuaca atmosfer dengan kerjasama antara LAPAN dengan BMKG.
14.    Stasiun Pengamat Dirgantara Kupang (Kupang, Nusa Tenggara Timur)
15.    Balai Penjejakan dan Kendali Wahana Antariksa Biak (Biak, Papua). BPD Biak merupakan fasilitas LAPAN yang terdiri dari: Stasiun Pengamatan Klimatologi, Pusat Kendali Satelit Cuaca dan Lingkungan, Pusat Kendali Telemetri, Penjelajahan, dan Kontrol Wahana Antariksa (ISRO-LAPAN)



***